avatar

free counters

16 November, 2010

Makna Idul Adha 1431 H

Assalamu Alaikum Warahmatulahi Wabarakatuh

"Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi'ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan untua-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur" (QS. Al-Hajj 36)

Makna arti Idul Adha 1431 H tahun ini banyak memberikan cobaan bagi saya, dari banyaknya kejadian-kejadian yang membuat saya mengalami banyak perubahan dan membuat saya memulai dari 0 lagi.

Tapi masalah perubahan ini telah saya ungkapkan kepada salah seorang yang banyak memberikan dukungan dan arahan kepada saya agar saya dapat lebih sabar dalam menjalani hidup, mudah-mudahan kedepannya saya dapat menjadi pribadi yang berguna bagi diri saya, keluarga, bangsa dan negara.

Apa makna Idul Adha? Apakah hanya berarti sekadar shalat sunah Idul Adha, mendengarkan khotbah, kemudian menyembelih hewan kurban (jika mampu), atau kebagian daging kurban, lalu selesai?

Jika arti Idul Adha hanya sebatas itu, sepertinya kita baru ikut-ikutan dan tak perlu marah jika ada yang menyebut kita adalah Islam KTP (beragama Islam berdasarkan catatan di kartu penduduk) semata. Masih perlu pembelajaran, memperdalam ilmu agama, atau belajar dari awal karena memang tidak memiliki dasar agama Islam sama sekali alias wong coepoe.

Idul Adha memiliki arti yang sangat dalam bagi umat Islam. Idul Adha terkait dengan keharusan bagi orang-orang mampu melaksanakan rukun Islam kelima, menunaikan ibadah haji. Idul Adha juga seharusnya mengingatkan kita semua bahwa kepatuhan terhadap Allah tidak dapat ditawar, seperti dicontohkan Nabi Ibrahim yang bersedia mengorbankan darah dagingnya sendiri karena perintah Allah SWT. Nabi Ibrahim akhirnya lulus dari ujian Allah SWT. Putra tercintanya, Nabi Ismail, atas kuasa Allah batal menjadi kurban dan diganti dengan seekor domba.

Belajar pada ketakwaan Nabi Ibrahim, siapapun umat Islam seharusnya memiliki jiwa sosial yang tinggi. Seharusnya kita tidak sayang dengan uang untuk berkurban, menyembelih hewan untuk dibagikan kepada masyarakat yang tak mampu dan yang berhak menerimanya. Mengikuti jejak Nabi Muhammad SAW, seharusnya kita peduli antar sesama, memaknai Hari Raya Idul Adha yang juga dikenal dengan sebutan Hari Raya Kurban ini dengan mengedepankan sikap sosial, membantu sesama, saling mengasihi dan menyayangi.

Apalagi jika kita kaitkan dengan kondisi negeri kita akhir-akhir ini yang tak hentinya-hentinya dihantam bencana. Berbagai musibah membuat sebagian rakyat di negeri ini menderita, yang miskin makin miskin, yang di atas garis kemiskinan dan masyarakat dari keluarga sejahtera pun ikut terjerembab. Yang terbaru adalah bencana banjir bandang di Wasior (Papua Barat), gempa dan tsunami yang menghantam Mentawai (Sumbar), serta meletusnya Gunung Merapi di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Semua itu memerlukan kepedulian sosial dari kita semua, dari pemerintah dan negara.

Belajar pada ritual ibadah haji yang mengajarkan persamaan di antara sesama, siapa pun di negeri ini seharusnya tergerak bersama-sama membantu, ikut meringankan beban korban bencana di berbagai daerah. Terkait dengan pelaksanaan kurban, misalnya, seharusnya masyarakat yang mampu memanfaatkan momen Idul Adha untuk memprioritaskan membantu sesama.

Terlebih bagi pemerintah, juga legislatif, selayaknya memprioritaskan program menanggulangi bencana. Jangan para korban hanya dibuai dengan janji-janji nya, jangan jadikan mereka sebagai pelengkap penderita. Tidak selayaknya pemerintah menambah beban para korban bencana. Apalagi memperpanjang birokrasi dalam mendapatkan makanan, penggantian, serta bantuan lainnya.

Ingat, bagi korban bencana di mana pun mereka tak peduli apakah mereka dibantu pemerintah atau swasta, oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang ditunjuk pemerintah mengomandoi penanganan bencana Gunung Merapi, setelah letusan gunung itu banyak makan korban, atau dari PMI, TNI, dan sukarelawan yang langsung turun dari awal bencana Merapi terjadi. Karena itu dalam menyikapi Idul Adha 1431 H ini, siapapun jangan hanya sibuk mempermasalahkan adanya perbedaan Hari Raya Idul Adha di negeri ini, tapi maknai Idul Adha sebagai mana mestinya. Jangan buai para korban bencana-di mana pun mereka-dengan janji, tapi bantulah mereka sepenuh hati.

SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1431 Hijriah.
Bletux A.K.A Irman Fatony